
educationMay 14, 202619:05pending
Espresso Dreams: Brewing a Love Story in Jakarta
Get every episode summarized
Each time FluentFiction - Indonesian publishes, we email you a written briefing from the transcript — the topics, who appeared, and any specific claims, with the ad reads skipped.
Email me new episodesFree for 3 shows. No card needed.
About this episode
Fluent Fiction - Indonesian: Espresso Dreams: Brewing a Love Story in Jakarta
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-05-14-22-34-02-id
Story Transcript:
Id: Dewi berdiri di belakang mesin espresso, menghirup aroma kopi yang menguar di seluruh ruangan.
En: Dewi stood behind the espresso machine, inhaling the aroma of coffee that wafted throughout the room.
Id: Roastery yang ia bekerja di Jakarta ini selalu ramai oleh pengunjung.
En: The roastery where she worked in Jakarta was always bustling with visitors.
Id: Ada suara mesin penggiling kopi, obrolan hangat, dan tawa yang memenuhi udara.
En: There were sounds of the coffee grinder, warm conversations, and laughter filling the air.
Id: Dewi adalah seorang barista yang cekatan dan perhatian.
En: Dewi was an agile and attentive barista.
Id: Setiap hari, dia melihat Rizal, seorang pelanggan setia yang selalu datang dengan buku catatan dan pulpen di tangan.
En: Every day, she saw Rizal, a loyal customer who always came with a notebook and pen in hand.
Id: Rizal bercita-cita menjadi penulis besar.
En: Rizal aspired to become a great writer.
Id: Diam-diam, Dewi menyimpan rasa suka pada Rizal, namun terlalu malu untuk mengungkapkannya.
En: Secretly, Dewi harbored a liking for Rizal, but was too shy to express it.
Id: Di pojok kafe, Arjuna, rekan kerja Dewi, memanggilnya.
En: In the corner of the cafe, Arjuna, Dewi's coworker, called her.
Id: "Dewi, ada yang tertinggal di meja Rizal," katanya, menunjukkan sebuah manuskrip tebal.
En: "Dewi, something is left behind on Rizal's table," he said, pointing to a thick manuscript.
Id: Rasa ingin tahu mendorong Dewi untuk membukanya.
En: Curiosity drove Dewi to open it.
Id: Saat membacanya, ia tercengang akan kedalaman dan kreativitas tulisan Rizal.
En: As she read it, she was astonished by the depth and creativity of Rizal's writing.
Id: Ia tahu ini adalah sesuatu yang istimewa.
En: She knew it was something special.
Id: Namun, Dewi bimbang.
En: However, Dewi was in a dilemma.
Id: Haruskah dia mengembalikannya segera dan mengakui bahwa ia sudah membacanya?
En: Should she return it immediately and admit she had read it?
Id: Atau harus menunggu waktu yang lebih tepat?
En: Or should she wait for a more opportune time?
Id: Esok harinya, Rizal datang lagi.
En: The next day, Rizal came again.
Id: Dewi meneguk kebimbangan dengan memutuskan untuk memberi sedikit petunjuk.
En: Dewi swallowed her hesitation by deciding to give a little hint.
Id: "Rizal, kamu tahu?
En: "Rizal, you know?
Id: Aku kenal penerbit yang sedang mencari penulis baru," katanya sambil menyerahkan kopi.
En: I know a publisher who is looking for new writers," she said while handing over the coffee.
Id: Rizal melihatnya dengan pandangan bingung.
En: Rizal looked at her with a confused gaze.
Id: "Oh ya?
En: "Oh really?
Id: Kok kamu tahu?
En: How do you know?"
Id: "Dewi menghela napas.
En: Dewi sighed.
Id: "Aku membaca manuskripmu.
En: "I read your manuscript.
Id: Maaf.
En: I'm sorry.
Id: Aku tidak tahan.
En: I couldn't resist.
Id: Itu sangat bagus.
En: It's really good."
Id: "Wajah Rizal berubah.
En: Rizal's face changed.
Id: "Bagaimana kamu tahu itu bisa diterbitkan?
En: "How do you know it could be published?"
Id: "Pertanyaan ini mengarahkan mereka ke percakapan panjang dan jujur tentang impian dan perasaan yang tak terungkap.
En: This question led them to a long and honest conversation about unspoken dreams and feelings.
Id: Dewi mengungkapkan dukungannya, dan Rizal menyadari aura persahabatan dan lebih dalam yang selama ini ia abaikan dalam diri Dewi.
En: Dewi expressed her support, and Rizal realized the aura of friendship and something deeper that he had been overlooking in Dewi.
Id: Alih-alih marah, Rizal merasa bersyukur atas dorongan Dewi.
En: Instead of being angry, Rizal felt grateful for Dewi's encouragement.
Id: Mereka sepakat untuk bekerja sama.
En: They agreed to work together.
Id: Rizal akan memoles kembali tulisannya, sementara Dewi akan mencoba menghubungkan Rizal dengan penerbit yang dikenalnya.
En: Rizal would refine his writing, while Dewi would try to connect Rizal with the publisher she knew.
Id: Dengan setiap cangkir kopi yang mereka sodorkan di meja, tumbuhlah rasa percaya dan harapan baru.
En: With each cup of coffee they placed on the table, trust and new hope grew.
Id: Dewi pun kini lebih percaya diri dan terbuka akan perasaannya.
En: Dewi now felt more confident and open about her feelings.
Id: Sementara Rizal belajar untuk mempercayai wawasan Dewi dan berani mengejar peluang.
En: Meanwhile, Rizal learned to trust Dewi's insights and dared to pursue opportunities.
Id: Kafe itu terus ramai, seperti halnya impian mereka yang tumbuh bersama di atas meja kayu yang hangat.
En: The cafe remained busy, just like their dreams that grew together on the warm wooden tables.
Id: Setiap hari, di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Dewi dan Rizal saling menginspirasi, menjalin cerita cinta yang berawal dari secangkir kopi.
En: Every day, amidst the hustle and bustle of Jakarta, Dewi and Rizal inspired each other, weaving a love story that began with a cup of coffee.
Vocabulary Words:
Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-05-14-22-34-02-id
Story Transcript:
Id: Dewi berdiri di belakang mesin espresso, menghirup aroma kopi yang menguar di seluruh ruangan.
En: Dewi stood behind the espresso machine, inhaling the aroma of coffee that wafted throughout the room.
Id: Roastery yang ia bekerja di Jakarta ini selalu ramai oleh pengunjung.
En: The roastery where she worked in Jakarta was always bustling with visitors.
Id: Ada suara mesin penggiling kopi, obrolan hangat, dan tawa yang memenuhi udara.
En: There were sounds of the coffee grinder, warm conversations, and laughter filling the air.
Id: Dewi adalah seorang barista yang cekatan dan perhatian.
En: Dewi was an agile and attentive barista.
Id: Setiap hari, dia melihat Rizal, seorang pelanggan setia yang selalu datang dengan buku catatan dan pulpen di tangan.
En: Every day, she saw Rizal, a loyal customer who always came with a notebook and pen in hand.
Id: Rizal bercita-cita menjadi penulis besar.
En: Rizal aspired to become a great writer.
Id: Diam-diam, Dewi menyimpan rasa suka pada Rizal, namun terlalu malu untuk mengungkapkannya.
En: Secretly, Dewi harbored a liking for Rizal, but was too shy to express it.
Id: Di pojok kafe, Arjuna, rekan kerja Dewi, memanggilnya.
En: In the corner of the cafe, Arjuna, Dewi's coworker, called her.
Id: "Dewi, ada yang tertinggal di meja Rizal," katanya, menunjukkan sebuah manuskrip tebal.
En: "Dewi, something is left behind on Rizal's table," he said, pointing to a thick manuscript.
Id: Rasa ingin tahu mendorong Dewi untuk membukanya.
En: Curiosity drove Dewi to open it.
Id: Saat membacanya, ia tercengang akan kedalaman dan kreativitas tulisan Rizal.
En: As she read it, she was astonished by the depth and creativity of Rizal's writing.
Id: Ia tahu ini adalah sesuatu yang istimewa.
En: She knew it was something special.
Id: Namun, Dewi bimbang.
En: However, Dewi was in a dilemma.
Id: Haruskah dia mengembalikannya segera dan mengakui bahwa ia sudah membacanya?
En: Should she return it immediately and admit she had read it?
Id: Atau harus menunggu waktu yang lebih tepat?
En: Or should she wait for a more opportune time?
Id: Esok harinya, Rizal datang lagi.
En: The next day, Rizal came again.
Id: Dewi meneguk kebimbangan dengan memutuskan untuk memberi sedikit petunjuk.
En: Dewi swallowed her hesitation by deciding to give a little hint.
Id: "Rizal, kamu tahu?
En: "Rizal, you know?
Id: Aku kenal penerbit yang sedang mencari penulis baru," katanya sambil menyerahkan kopi.
En: I know a publisher who is looking for new writers," she said while handing over the coffee.
Id: Rizal melihatnya dengan pandangan bingung.
En: Rizal looked at her with a confused gaze.
Id: "Oh ya?
En: "Oh really?
Id: Kok kamu tahu?
En: How do you know?"
Id: "Dewi menghela napas.
En: Dewi sighed.
Id: "Aku membaca manuskripmu.
En: "I read your manuscript.
Id: Maaf.
En: I'm sorry.
Id: Aku tidak tahan.
En: I couldn't resist.
Id: Itu sangat bagus.
En: It's really good."
Id: "Wajah Rizal berubah.
En: Rizal's face changed.
Id: "Bagaimana kamu tahu itu bisa diterbitkan?
En: "How do you know it could be published?"
Id: "Pertanyaan ini mengarahkan mereka ke percakapan panjang dan jujur tentang impian dan perasaan yang tak terungkap.
En: This question led them to a long and honest conversation about unspoken dreams and feelings.
Id: Dewi mengungkapkan dukungannya, dan Rizal menyadari aura persahabatan dan lebih dalam yang selama ini ia abaikan dalam diri Dewi.
En: Dewi expressed her support, and Rizal realized the aura of friendship and something deeper that he had been overlooking in Dewi.
Id: Alih-alih marah, Rizal merasa bersyukur atas dorongan Dewi.
En: Instead of being angry, Rizal felt grateful for Dewi's encouragement.
Id: Mereka sepakat untuk bekerja sama.
En: They agreed to work together.
Id: Rizal akan memoles kembali tulisannya, sementara Dewi akan mencoba menghubungkan Rizal dengan penerbit yang dikenalnya.
En: Rizal would refine his writing, while Dewi would try to connect Rizal with the publisher she knew.
Id: Dengan setiap cangkir kopi yang mereka sodorkan di meja, tumbuhlah rasa percaya dan harapan baru.
En: With each cup of coffee they placed on the table, trust and new hope grew.
Id: Dewi pun kini lebih percaya diri dan terbuka akan perasaannya.
En: Dewi now felt more confident and open about her feelings.
Id: Sementara Rizal belajar untuk mempercayai wawasan Dewi dan berani mengejar peluang.
En: Meanwhile, Rizal learned to trust Dewi's insights and dared to pursue opportunities.
Id: Kafe itu terus ramai, seperti halnya impian mereka yang tumbuh bersama di atas meja kayu yang hangat.
En: The cafe remained busy, just like their dreams that grew together on the warm wooden tables.
Id: Setiap hari, di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Dewi dan Rizal saling menginspirasi, menjalin cerita cinta yang berawal dari secangkir kopi.
En: Every day, amidst the hustle and bustle of Jakarta, Dewi and Rizal inspired each other, weaving a love story that began with a cup of coffee.
Vocabulary Words:
- inhaling: menghirup
- wafted: menguar
- bustling: ramai
- attentive: perhatian
- loyal: setia
- aspired: bercita-cita
- harbored: menyimpan
- shy: malu
- express: mengungkapkan
- curiosity: rasa ingin tahu
- astonished: tercengang
- dilemma: bimbang
- hesitation: kebimbangan
- hint: petunjuk
- confused: bingung
- sigh: menghela napas
- resist: tahan
- pursue: mengejar
- opportunities: peluang
- amidst: di tengah
- trust: rasa percaya
- refine: memoles
- encouragement: dorongan
- overlooked: mengabaikan
- manuscript: manuskrip
- creative: kreativitas
- unspoken: tak terungkap
- grateful: bersyukur
- conversation: percakapan
- barista: barista
Get every episode summarized
Each time FluentFiction - Indonesian publishes, we email you a written briefing from the transcript — the topics, who appeared, and any specific claims, with the ad reads skipped.
Email me new episodesFree for 3 shows. No card needed.
Hosts & guests
No transcript yet
This episode has not been transcribed. Request it and it moves to the front of the queue.
More episodes
More from FluentFiction - Indonesian

From Rotten to Riveting: Office Pumpkin Contest Surprise
FluentFiction - Indonesian
Oct 4, 202619:36completed

Invisible Shoes and Muddy Laughs: A Day at Tegalalang Terrace
FluentFiction - Indonesian
Oct 3, 202619:17completed

Revelation at the Festival: A Botanist's Quest for Truth
FluentFiction - Indonesian
Oct 3, 202619:25pending

Light in the Darkness: A Bunker Tale of Hope and Humor
FluentFiction - Indonesian
Oct 2, 202619:46pending